Pendidikan Indonesia, HAKIKAT DAN LINGKUP PENILAIAN HASIL DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

Foppsiwanasaba.com, Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas, Konsep-konsep tersebut pada umumnya berkisar pada pandangan sebagai berikut:
·         Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga terhadap tujuan-tujuan yang tersembunyi, termasuk efek samping yang mungkin timbul.
·  Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan, baik masukan proses maupun keluaran.
·   Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapainya.
·    Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sagnat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes, tetapi juga alat penilaian bukan tes.

Atas dasar itu maka lingkup sasaran penilaian mencakup tiga sasaran pokok sebagai berikut:
·         Program pendidikan
·         Proses belajar mengajar
·         Hasil-hasil belajar
 
www.foppsiwanasaba.com
Penilaian program pendidikan atau penilaian kurikulum menyangkut terhadap tujuan pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program, dan sasrana pendidikan. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola intraksi guru-siswa, dan keterlaksanaan program belajar-mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil belajar jangka panjang.

Sahabat Pendidikan Indonesia yang berbahagia, pembahasan akan dibatasi pada penilaian hasil belajar dan penilaian proses mengajar-mengajar. Penialian program pendidikan atau kurikulum sama sekali tidak dibahas sebaba bukan itu tujuan penulisan artikel ini. Oleh sebab itu, pembahasan akan lebih banyak memaparkan hakikat dan konsep-konsep yang berkenaan dengan penilaian hasil dan proses belajar.

1.      Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar.
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yaitu tujuan pengajaran (nstruksional), Pengalaman (Proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Hubungan ketiga unsur tersebut digambarkan dalam diagram dibawah ini: 



Keterangan :
Garis (a) menunjukkan hubungan antara instruksional dengan pengalaman belajar, garis (b) menunjukkan hubungan antara pengalaman belajar dengan hasil belajar, dan garis (c) menunjukkan hubungan tujuan instruksional dengan hasil belajar. Dari diagram diatas dapat disimpulkan bahwa Kegiatan Penilaian dinyatakan oleh garis (c), yakti semua suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang diperilhatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Sedangkan garis (b) merupakan kegiatan penilaian untuk mengetahui keefektifan pengalaman belajar dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.

Tujuan instruksional pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri siswa. Oleh sebab itu, dalam penilaian hendaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa telah terjadi melalui proses belajarnya. Dengan mengetahui tercapai-tidaknya tujuan-tujuan instruksional, dapat diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan. Misalnya dengan melakukan perubahan dalam strategi mengajar, memberikan bimbingan dan bantuan belajar kepada siswa. Dengan kata lain, hasil penilaian tidak hanya bermanfaat untuk mengetahui tidaknya tujuan instruksional,, dalam hal ini perubahan tingkah laku siswa, tetapi juga sebagai umpan balik bagi upaya memperbaiki proses belajar mengajar.

Ditinjau dari segi sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Misalnya untuk dapat dikatakan baik, sedang, diperlukan adanya ketentuan atau ukuran yang jelas bagaimana yang baik, yang sedang dan yang kurang. Ukuran itulah yang dinamakan kriteria. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataaan atau apa adanya dengan kriteria atau apa harusnya. Perbandingan bisa bersifat mutlak, bisa pula bersifat relative. Perbandingan bersifat mutlak artinya hasil perbandingan tersebut menggambarkan posisi objek yang dinilai dari kriteria yang berlaku. Sedangkan perbandingan bersifat relatif artinya hasil perbandingan lebih menggambarkan posisi suatu objek yang dinilai terhadap objek lainnya dengan bersumber pada kriteria yang sama.

Dengan demikian, intin penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung dsalam bentuk Interpretasi yang diakhiri dengan Judgment. Interprestasi dan Judgment merupakan tema penilaian yang mengimpilikasikan adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu. Atasa dasar itu maka dalam kegiatan penilaian selalu ada objek/program, ada kriteria, da nada interpretasi/judgment. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku seperti telah dijelaskan diatas. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar, peranan tujuan instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai siswa menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Dalam penilaian ini dilihat sejauh mana keefektifan dan efesiennya dalam mencapai tujuan pengajaran atau perubahan tingkah laku siswa. Oleh sebab itu, penilaian hasil dan proses belajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil merupakan akibat dari proses.

Dari pengertian diatas maka penilaian memiliki fungsi antara lain sebagai berikut:
1.      Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu kepada rumusan-rumusan tujuan instruksional.
2.      Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar mengajar siswa, strategi mengajar guru dll.
3.      Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikembangkan kemampuan dan kecakapan/belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapai.

Sedangkan tujuan penilaian adalah untuk :
1.      Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.
2.      Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran disekolah, yaitu seberapa jauh keefektifannya yang diharapkan. Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran penting artinya mengingat peranannya sebagai upaya memanusiakan atau membudayakan manusia, dalam hal ini para siswa agar menjadi manusia yang berkualitas dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral dan keterampilan.
3.      Menentukan tindaklanjut hasil penilaian, yaitu melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya. Kegagalan siswa dalam hasil belajar yang dicapainya hendaknya tidak dipandang sebagai kekurangan pada diri siswa semata-mata, tetapi juga bisa disebabkan oleh program pengajaran yang diberikan kepadanya atau oleh kesalahan strategi dalam melaksanakan program tersebut. Misalnya kekurangtepatan dalam memilih dan menggunakan metode mengajar dan alat bantu pengajaran.
4.      Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa. Dalam mempertanggungjawabkan hasil-hasil yang telah dicapainya, sekolah memberikan laporan berbagai kekuatan dan kelemahan pelaksanaan system pendidikan dan pengajaran serta kendala yang dihadapinya.

Demikian yang dapat kami bagikan kepada sahabat fopppsiwanasaba.com semoga bermanfaat jangan lupa dishare yaa.

Belum ada Komentar untuk "Pendidikan Indonesia, HAKIKAT DAN LINGKUP PENILAIAN HASIL DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel