Novel "Jalan Cinta"

Cinta itu sederhana
Hanya nafsu yang merorong akal sehatlah
yang mengubah cinta menjadi luka,
Duhai lelaki dimana kegagahan ucapanmu
  yang dulu kau katakan cinta ?


Inikah Cinta ?
Cinta lima huruf yang kekuatanya mampu membius semua kalangan, tak terkecuali anak SD juga, kebayakan dari mereka yang sedang dilanda cinta  lebih memilih melampiaskan rasa cintanya  dengan pacaran, tetapi ketika luka menusuk hati masihkah cinta itu dikatakan cinta?.
Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi bukankah yang namanya jatuh itu sakit, terus mengapa memilih jatuh cinta jika membangun cinta jauh lebih indah meski jalanya harus menghadirkan sabar dalam hati, jika cinta mudah datang dan pergi pastinya itu cinta yang datang dari mata bukan dari hati, karena bisikan hati yang disebut bisiskan nurani tidak akan pernah salah.
Katanya cinta bisa datang seiring kebersamaan, sahabatan dulu baru pacaran, atau memilih dekat dengan dia yang dicintai tapi bagaimana kalau dia akhirnya memilih oran lain, apakah akan tetap diam menahan perih dalam hati, apa iya itu cinta?
 Perjalan Cinta setiap manusia memanglah berbeda-beda, namun jalan yang benar dan yang salah manusiayalah yang memilihnya, karena bahagia atau tidak manusia sendiri yang menentukanya, karena Tuhan tidak akan mengubah hidup suatu kaum jika bukan dia yang mau merubahny.
Dan inilah Jalan cinta yang dipilih oleh Anisa Meydina,  seorang perempuan cantik berkulit kuning langsat, bermata indah, ayu wajahnya, tinggi  langsing, cerdas dan mandiri namun sedikit cuwek bagi orang yang belum mengenalnya, lelaki mana yang tak akan terpesona padanya, namun tak semudah itu untuk bisa dekat apalagi menjadi kekasihnya.
Tapi tidak dengan Ridho lelaki tampan berwajah oval, bertubuh atletis, berkulit putih, tinggi dan berkumis tipis namun tidak banyak bicara itu sudah berhasil mencuri hati Anisa.
Kisah cinta mereka membuat siapapun yang mengenal mereka merasa takjub akan kekompakan dan keromantisan mereka, keserasian diantara mereka tidak hanya terlihat dari wajah cantik dan tampanya, bak tuan putri dan pangeran dari negeri dongeng, bahkan restu dari orang tua masing-masing sudah mereka kantongi, bayangan pernikahanpun sudah Nampak dekat.
Meski karakter dan hobi keduanya berbeda, Anisa si pengagum mitologi yang cepat ngambek, dan Ridho si penggemar bola yang cuwek , tidak membuat hubungan mereka goyah  walaupun pertengkaran kecil sering terjadi, kesalah pahaman kerap kali menjadi alasan pertengkaran itu, tapi semua itu membuat hubungan mereka  semakin hari semakin kuat.
Hingga tiba masanya kabut hitam mulai menghampiri hubungan keduanya, semenjak satu bulan lamanya, mendadak Ridho tak ada kabar, dihubungipun pasti sibuk, bahkan hanya sekedar untuk  menanyakan kabar, tidak ada waktu sedikitpun, Fikiran buruk serta perasaan yang tak tentu mulai bertamu dan menari-nari di hati dan fikiran Anisa.
Malam itu ponselnya berbunyi, Tanpa ragu Anisa segera mengangkatnya dengan hati yang penuh harap kalau itu adalah Ridho kekasih hatinya..
.           “Assalamualaikum Nisa, bagaiaman kabarmu ?”
Mendengar suara kekasih yang telah lama di rindukanya itu membuat jatungnya  berdebar hebat sama seperti dulu saat Ridho pertama kali menyatakan cinta padanya.
Sungguh cintanya kepada lelaki itu teramat besar, bahkan banyangan –bayangan indahnya pernikahan yang sudah dijanjikan lelaki itu selalu terngiang di benaknya, meskipun dia tak ada kabar,  kesetiaan menunggu lelakinya itu tak pernah berkurang sedikitpun.
“Waalaikumsalam kakak Ridho, Alhamdulillah kabar Nisa baik, bagaimana dengan kabar kakak?”
“Alhamdulillah baik jugak Nisa, aku menelpon karena ada yang ingin aku sampaikan padamu!”
Keadaan hening beberapa saat, Anisa dengan penuh tanda tanya keheranan mengapa Ridho begitu dingin padanya, dan tak lagi memanggilnya dengan panggilang kesayangan mereka, beberapa detik terdiam terdengar Ridho menarik nafas dalam-dalam setelah itu  melanjutkan pembicaraanya.
“Nisa, Maaf karena sepertinya, Cinta tak bisa dipaksakan lagi, kakak mulai bosan dengan hubungan kita, berhentilah menghubungi kakak.!”
Ucap Ridho blak blakan.
Kata-kata Ridho bagaikan tusukan panah yang tepat mengenai jatungnya, nyanyian hewan malam sudah tak terdengar semerdu biasanya, malam itu seperti terjadi badai dahsyat yang membuat anisa panas dingin dan gemetaran, rasa tak percaya membuatnya tak habis fikir akan kekasihnya itu.
“ Ada apa kakak?, apa kau sadar mengucapkanya ?,
 jika nisa ada salah, tolong maafakan nisa, jangan begini kakak? Bagiamana dengan janji kakak?”
Desak nisa, keheranan tak percaya.
“Maafkan kakak, tapikan kita sudah putus lama, maka  lupakanlah janji kakak kemarin, karena sekarang kakak  terlanjur mencintai wanita lain”. Jelas Ridho.
Mendengar kejujuran kekasihnya itu, Hati anisa semakin meringis,
rasanya dunia ini mulai gelap, dengan helain nafas yang tinggi dia menahan isak tangisnya, karena tak ingin terlihat lemah oleh kekasihnya.
“ Apa ? kita sudah putus lama?, terus apa artinya kemarin itu pas kakak memberikan cincin buat Nisa?”
“Maaf sekali lagi Nisa, kakak gak bisa menahan perasaan kakak, Lupakan kakak !, semoga Nisa bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari kakak.!”
“Baiklah kakak, kalau itu yang kakak mau, Nisa hanya pesan, jangan sakiti wanita itu, semoga kalian bahagia.!”
Karena sudah tak kuat menahan isak tangisnya, Anisapun menutup telpon tanpa salam, malam itu terasa sunyi dan mencekam, gemuruh di hatinya mengalirkan hujan lebat di pipinya, sepanjang malam matanya tak mampu terpejam, hatinya trus menggumam menyalahkan keadaan, dan menghakimi dirinya sendiri
Inikah cinta yang dulu sering di eluh-eluhkan, kesetiaan sebagai penguat hubungan, pengorbanan yang katanya sebagai bukti cinta yang tulus kini tak ada artinya lagi, semua sirna tak tersisa bagai debu diterbangkan angin, kemana cinta yang besar itu?, semudah itu dia ucap cinta semudah itu pula dia mengucap kata perpisahan.
Ridho lelaki yang dulu memperlakukanya bak tuan putri yang katanya dia adalah segalanya baginya kini memandang nya sebelah mata, apakah cinta sepicik itu ?.
Entah dimana perasaan lelaki itu sehingga iya pergi meninggalkan janji-janji manisnya.
Di sudut kamar yang gelap hatinya terus saja merintih, butiran-butiran air mata mengalir tanpa suara.
”Entah apa salahku hingga dia tega melakukan ini, meninggalkanku tanpa perasaan iba, apa kurangnya diriku, hingga dia lebih memilih wanita yang baru dikenalnya dibanding aku yang sudah 3 tahun mendampinginya dengan penuh kesabaran dan kesetiaan?”
Gumam Anisa.
Kenyataan itu mau tidak mau harus diterimanya karena  seorang lelaki yang tak bisa menepati janjinya tidaklah pantas untuk ditangisi terlalu lama, apalagi sampai terpuruk dalam jurang tak bertepi,  tapi rasanya memang tak mungkin secepat itu dia berdamai dengan hatinya.
Apalagi kenangan-kenangan manis bersama lelaki itu masih teringat jelas di benaknya, rasa itu baru saja kemarin tumbuh bermekaran di istana cinta mereka kini sudah mati hingga berdarah-darah di bunuh penghianatan.
Kehampaan demi kehampaan menyelimuti hatinya,  kebencian dan kemarahan kerap kali menghadirkan fikiran-fikiran yang menghilangkan akal sehat.
“Apa iya, kau akan terus seperti ini,?, Sedangkan di luar sana lelaki itu sedang memadu kasih tanpa penyesalan, sedangkan kau disini masih memikirkanya, apa itu adil ?”
Pertanyaan itu seolah memukul batinya, pertanyaan yang tak lain datang dari Khumaira  sosok sahabat  yang paling mengerti dirinya.
“Terus kamu mau aku bagaiman, apa aku harus segera mencari cinta yang lain ?”
Desak anisa kepada sahabatnya itu.
 “Tidak perlu seperti itu, karena itu hanya akan menambah masalahmu, sudahlah tidak perlu seperti sinetron yang terlalu banyak drama, Apa kamu mau balas dendam?”
Anisa kaget dan bengong mendengar pertanyaan sahabat nya itu, tak habis fikir mengapa khumaira si pemalu yang berjilbab lebar dan tau banyak tentang agama itu bisa-bisanya menyarankan untuk balas dendam.
“Apa kau sadar dengan pertanyaanmu itu? Balas dendam itu kan tidak boleh!”
“Iya tau, makanya jawab dulu pertanyaanku, apa kau mau balas dendam lalu dia kembali meminta cintamu?”
Untuk seseorang yang terluka hatinya  hal yang difikirkanya hanyalah bagaimana cara agar orang yang dicintainya kembali lagi padanya, rasa tidak rela mengekang akal sehatnya sehingga meski sudah terluka dia tetap saja mencari cara agar bisa mengembalikan cintanya mungkin ini yang dinamakan CINTA ITU BUTA.
“Ya aku mau dia kembali, tapi balas dendam seperti apa yang kamu maksud?”
Khumaira tersenyum melihat sahabatnya yang terlihat tidak sabar menunggu saran darinya.
“Dasar orang yang lagi di rundung cinta, padahal sudah di sakiti dan dikhianati masih saja mengharapkanya kembali”.
Gumam khumaira dalam hatinya.
“Caranya adalah perbaiki dirimu, berhentilah mencari tau tentang dia, tunjukkanlah sikap seolah-olah kau lagi bahagia meskipun hatimu masih hancur, yang terpenting ajari hatimu untuk memaafkan dan mengikhlaskanya.”Lajut Khumaira.
“ Apa aku bisa melakukanya?, dan apa mungkin dengan cara seperti itu dia bisa kembali padaku?”
“Anisa sahabatku kau pasti bisa, karena aku tau kau perempuan yang kuat, dan cerdas, dengan Bismillah maka percayalah !”
“Baiklah akan ku coba, Bismillah !” kalimat Terakhir anisa di barengin senyum kecil di bibirnya.
Memang menyenangkan memiliki banyak teman tetapi memiliki satu sahabat yang selalu ada dalam susah dan senang serta bisa  mengarahkan kepada kebaikan adalah salah satu rezeki yang paling berharga selain dari harta.
Cinta yang dirasakanya dalam hati bukanya salah hanya saja terlalu berharap kepada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan, setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda tentang cinta, cinta yang dikenal Anisa mungkin sudah membuat nya mencicipi neraka cinta yang paling mengerikan.

Cinta itu sederhana
Disaat engkau mampu memaafkan dan berdamai dengan luka maka saat itu kan kau temukan ketenangan sejati kepada rindu yang mungkin tak sempat terjamah oleh hatimu. 

Bersambung.....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel